Catur-karyawan

Lanjutan post saya kemaren..

Ternyata kata “Penasehat Spiritual Kantor” saya, memang yang namanya perusahaan yang masih berkembang-dimana manajemen nya masih seperti ini (baca:seadanya)-ya memang perlu dimaklumi. Penilaian terhadap karyawan memang masih sangat subyektif, budaya like and dislike nya masih kentel.. Ngga cuman di perusahaan saya, tapi ya memang di semua perusahaan yang skala nya masih menengah kebawah.. Katanya juga siy, mungkin perusahaan multinasional, BUMN, atau Internasional yang bener-bener ada penilaian yang terstandar, itupun juga masih ada lah sikut-sikutan.. Yayaya, memang wawasan saya tentang dunia kerja masih minim yah.. Jadi langsung emosi ngeliat yang menurut saya ngga bener/aneh.. Continue reading

Go With The Flow

Ada hal yang melayang-layang, berenang-renang, dan menghentak-hentak emosi saya sejak pertama kali bekerja di perusahaan keluarga..

Banyak hal yang saya rasa, diciptakan untuk saling tusuk-menusuk dari belakang.. Hal tusuk-menusuk atau mencari muka mungkin wajar dan dapat di mengerti jika memang dilakukan orang yang memang dari awal suka “menjilat”, tapi yang sangat mengecewakan, dan kadang membuat emosi saya meluap-luap adalah karyawan,teman sejawat yang baik yang tiba-tiba berubah menjadi serigala ketika sudah dihadapkan dengan jabatan.. atau yang baik jadi ikut-ikutan main jilat karena terdesak oleh orang-orang yang menjilat..

Huft.. Apakah memang selalu terjadi yang seperti ini di perusahaan yang manajemen nya masih dipegang oleh pemilik? Dimana penilaian kinerja dan career-path seseorang dinilai dengan sangat subyektif, dg cara like and dislike, baik dan buruk-nya menurut mata pemilik.. Bukannya dengan melakukan penilaian yang sangat subyektif tersebut malah menghancurkan perusahaan mereka dengan sendirinya? Karena karyawan jadi berlomba-lo Continue reading